sitoradostdaram sitoradostdaram sitoradostdaram

Saturday, July 11, 2009

-AWARD-

Ini untuk kesekian kalinya Award yang diberikan teman-teman bloggerku..

Ada beberapa teman- teman yang Awardnya tidak ku pajang.. maafkan.. suka kelupaan saking terlalu asyik menulis... Hahahhaha

But, special thanks for Mas Vicky yang kasih Award untukku, Maaf.. baru dipajang subuh - subuh..

Inilah Awardnya :



Aku bingung mau kasih ke siapa. Curiga teman- temanku udah pada punya malah. Buat siapa aja deh yang mau untuk nambah koleksi Awardnya... hahahha...

Semoga saja dengan bertambahnya Awardku, semakin bertambah juga teman-temanku di blogger.

Idih.. agak gandeng, garing, kayak kantong kresekan yah??
Lagi sedih soalnya. Tapi syukurnya udah nggak pake mewek ria lagi. Sudah lebih bijak lagi menghadapi tentang masalah jawaban hidup.

Enough... waktunya mempersiapkan diri for start a new day..

Once more...

Thank's a lot Mas Vicky...


-LaDy-
05.34am, 110709,Sat-Morn, Bdg
Share Article on :

Thursday, June 18, 2009

THINKING TWICE

Bandung, 27 Mei 2009

>>>

" Lady.. aku kan sudah bilang, jangan temui dia lagi.. Dia itu brengsek.. " ujar Budi tanpa kelemahlembutan.
" Iya, Phie.. Saranku sih, jangan lagi deh,, Nanti loe nangis lagi dibuat dia.. " sambung Rendy memperlembut.
" Kalau menurut aku, selama loe bisa mengontol perasaan loe, yahh it's okay.. " sambung si Marina lebih memberikan pilihan untukku.
" Udahlah, biarin aja si Lady ketemuan dulu.. sapa tahu Fatur memang kangen beneran. Si Lady kan kangen juga... Masa ditahan-tahan??!! " jelas Atha yang kadang sok wise.

Semua teman-temanku ini punya pedapat masing-masing tentang pertemuanku nanti malam dengan pria bajingan ini (versi Budi Cs ).

" Abah.. soto ayam satu yahh.. " teriak Budi.
" Bukan apa-apa sih, Lad.. Aku hanya nggak mau loe terluka lagi gara-gara dia. Lebih baik loe cari pria lain yang lebih baik dari dia. Masih ada aku, Rendy siap menampung yang kedua nih.. " sambung Budi setelah meneriaki Abah Sang Pedagang Pinggir Jalan.
" Iya, Lad.. Mending sama kita-kita aja loe jadiannya. Gue siap kok nampung loe.. " sambung Rendy jayus.
" Eeeee.... kalian ini ya.. Mulai deh... " Marina mulai menyadarkan kedua teman pria kami yang suka 'kambuh' tiba- tiba.
" Ya, terserah sih Lad.. Kalau mau ketemu atau tidak. Yang penting ingat yahh.. jangan sampai kamu terhanyut omongannya.. okay??!!" jelas Rendy menasehatiku.
***
Dinner di warung favorit kami pun berakhir. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit. Aku memutuskan untuk segera kembali ke kos. Memastikan Fatur belum tiba.
Ternyata aku kalah susul oleh Fatur. Dia sudah tiba 10 menit sebelumnya. Pria ontime. Yah, aku memang mengenal sebagai pria yang sangat menghargai waktu.
Aku kaget ketika wajahnya berpapasan denganku. Seperti biasa, grusak grusukku mulai kambuh. Dan.. seperti biasa juga... Speechless...

Entah mengapa aku sulit sekali berbicara dengannya tiap kali bertemu dengannya.
" Hi.. "
" Hi.. " jawabku singkat sambil mengajaknya melangkah ke kamar kos. Maklumlah, kos- kosan ku tidak tersedia ruang tamu. Berarti selama 10 menit tadi dia berdiri ria di balkon rumah kos.
" Loe darimana? "
" Baru selesai makan sama teman-temanku.. "
" Ooo... sori ganggu... "
Aku hanya mengangguk.

Hampir 15 menit aku dan dia terdiam. Hanya lantunan nada indah dari komputer yang sedikit membantu menghilangkan suasana kebekuan.
" Gue kangen sama loe.. "
Damn... akhirnya dia mengatakan kata - kata ini kembali.
Dia mendekatiku. Menatapku tajam. Entah mengapa kali ini aku kalah. Aku nggak mampu menatapnya lama. Mungkin karena aku teringat akan perkataan Budi sorenya :
" Ingat, Lad.. Kalau dia mulai menatapmu tajam, jangan balas. Lebih baik kamu alihkan tatapanmu. Aku yakin ada maksud busuknya.. "
"Erghhh.. kenapa juga aku mesti dengar apa kata Budi yang suka nyablak.."aku pun menggerutu dalam hati.

" Sekarang mau loe apa? "
" Gue bingung, Lad.. Kacau.. pikiran gue kacau banget.. Gue ngerti loe pasti kecewa banget.. Tapi aku bingung mesti bersikap seperti apa.. " jawabnya entah itu jujur atau ngebull***.
" Apakah aku hanya lebih pantas untuk menjadi tong sampah bagimu, heuhhh? " tanyaku emosi.

Baru kali ini aku bisa seemosi ini. Rasanya aku ingin melampiaskan semua marah ini ke arahnya. Rasanya aku ingin menunjukkan kepada dia, bahwa aku bukan 'tong sampah' yang hanya bisa dijadikan tempat pembuangan semua rasa hancur, luka nya, dan busuk-busuknya.
" Lad... "
Aku diam terpaku. Kaku dan beku ketika kedua tangannya menggapai kedua tanganku.

Oh, My God... apa maunya dia???

***

written by Ophie Chien
4.02am, 180609, Bdg-Indonesia
Share Article on :

Sunday, June 14, 2009

Status Mood : Error Banget 2

Bandung, 27 Mei 2009

>>>

Jantungku berdegub cepat ketika melihat nada panggilan dari Fatur. Pria brengsek ( prediksi teman - temanku ), yang seenak perutnya datang dan pergi.

Angat tidak, angkat tidak,,
Angkat.. akhirnya kata hatiku meriakki : " Lady.. angkat... "

" Mmmm.. " jawabku singkat. Dengan detupan jantung yang semakin kencang saja, aku coba untuk tetap terus menenangkan diri. Biasanya emosi ketika bangun pagi itu sedikit memburuk jika diperhadapkan dengan pihak - pihak yang sedikit merusak pikiran. Tentunya seperti dia ini. Fatur perusak pikiranku yang kini tiba - tiba datang kembali. Usai ini, dia pun akan pergi menghilang kembali. We'll see...

" Gue kangen.. "
Shittt... apa maunya dia?? Tiba - tiba dia bilang kangen.. Pagi - pagi buta ini?? Walau sebenarnya matahari sudah bersinar jelas terlihat dari kaca jendela kamarku yang lupa aku tutup malam tadi.

" Oooo.. "
" Bisa ketemuan nggak? "
Ooo.. dia ingin bertemu denganku. Apa kata dunia kalau aku bertemu dengannya?? Pria yang sudah ku maki- maki, aku hina-hina.. erghhhh...

Iblis pun menongolkan tanduknya dikepalaku.
" Lad.. this's the time for you.. Waktunya untukmu membuktikan bahwa kamu tidak membutuhkannya. Maki-maki saja dia di depan khalayak ramai.. Bila perlu kamu tampar.. supaya dia sadar.. dan kepalang malu... "

Erghh.. kembali aku memukul - mukul kepalaku.
" Ihhh.. " ucapku spontan.
" Lad... kamu kenapa?? Kamu dengar kan yang tadi aku omongin? "
" Opppsss... Eeee.. iya.. iya.. aku dengar.. "
" Gimana?? Bisa ketemuan nggak hari ini?? Kamu bisanya jam berapa? "
Pria aneh ini sepertinya PD sekali mempertanyakan hal ini kepadaku. Seakan- akan aku pun menerima tawarannya.

" Oooo.. " nanti malam saja. Jam 8an. Gimana? "
Damn... kenapa aku menyetujuinya.Mengapa aku meng'iya'kan omongannya. Dan aku menentukan jam nya pula.. Ouhhh...
" Okay.. Aku ke kosan kamu ya.. "
" Emmmm.. "
" Bye... "
" Bye.. "
tut,tut,tut,tut,tut..

Percakapan kami pun berakhir..
Apa yang baru saja aku katakan sepertinya diluar dari kendaliku. Lagi - lagi logika dan perasaanku berperang. Logikaku menolak pertemuan ini, namun perasaanku menginginkan itu. Karena memang sebenarnya aku merindukan dia. Merindukan suasana pertama kali mengenalnya. Merindukan suasana ketika dia mencoba bertahan menantikan jawabanku untuk mengatakan "
" Ya.. ya.. ya.. aku mau jadi pacar kamu.. "

Jesusss... perasaan apa ini?? Mengapa kembali hadir ketika aku sedang mencoba untuk membuka hati dengan pria lain??
Mengapa Kau perhadapkan aku dengan kerumitan masalah cinta seperti ini??
Tidak adakah pria yang benar-benar tulus mencintaiku??
Ataukah memang aku harus menjalani kisah cinta seperti ini??

Akhirnya doa pun terucap kembali dari lubuk hatiku terdalam. Berharap nanti malam tidak terjadi perang mulut antara aku dan dia..

" Ouhhh. I'm late.. My God.... "

Aku pun terjaga dari lamunanku. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.

"Berharap hari ini bukan hari mengantri seTubagus Ismail menuju Dago... "gerutuku dalam hati.


writted by :Ophie Chien
10.17am, 140609-Sunday Morn, Bdg-Indonesia
Share Article on :